Korban jiwa akibat gempa bumi dahsyat yang melanda Myanmar dan Thailand pada Sabtu, 23 Maret, telah mencapai lebih dari 1.000 orang. Pemerintah junta militer Myanmar melaporkan bahwa hingga saat ini, sebanyak 1.002 orang tewas dan hampir 2.400 lainnya mengalami luka-luka akibat bencana tersebut. Di Bangkok, jumlah korban meninggal dunia juga bertambah dengan 10 orang dilaporkan tewas.
Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo ini menyebabkan kerusakan parah, menghancurkan bangunan, meruntuhkan jembatan, dan memutuskan akses jalan di banyak wilayah di Myanmar. Kerusakan terbesar terjadi di Mandalay, kota terbesar kedua di negara itu. Komunikasi yang terputus membuat pemerintah militer Myanmar kesulitan dalam memberikan laporan akurat mengenai jumlah korban yang terus meningkat.
Kepala junta militer Myanmar, Min Aung Hlaing, telah meminta bantuan dari komunitas internasional, mengingat situasi darurat yang dihadapi setelah gempa mematikan ini. Ia menyatakan bahwa pemerintah telah mengumumkan keadaan darurat untuk menangani dampak bencana yang telah menimbulkan kepanikan dan kesedihan di kalangan warga.
US Geological Survey (USGS) memperkirakan bahwa jumlah korban jiwa bisa meningkat secara signifikan, bahkan berpotensi mencapai lebih dari 10.000 orang. Dengan keadaan yang semakin genting, permohonan bantuan internasional menjadi sangat mendesak untuk membantu pemulihan dan penyelamatan korban.
Situasi ini menjadi sorotan dunia, dan banyak pihak berharap agar bantuan segera tiba untuk mendukung upaya penyelamatan dan pemulihan di Myanmar. Kita semua berharap agar warga yang terdampak dapat segera mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan di tengah bencana ini.