Gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Myanmar pada Jumat, 28 Maret 2025. Peristiwa tragis ini telah menyebabkan kerusakan parah pada bangunan dan fasilitas publik, termasuk gedung pencakar langit yang ambruk, memicu kepanikan di kalangan warga. Menurut pemodelan oleh badan geologi dan pemetaan Amerika Serikat, diperkirakan jumlah korban tewas bisa mencapai 10.000 orang, meskipun angka ini bisa meningkat lebih jauh seiring dengan perkembangan situasi.
Pemerintah militer Myanmar saat ini tengah mengajukan permohonan bantuan internasional untuk menangani krisis ini. Ratusan korban telah dilarikan ke rumah sakit, dengan banyak di antaranya terjebak di bawah reruntuhan. Dalam update terbaru, jumlah korban tewas dilaporkan mencapai 694 orang, sementara jumlah korban luka-luka melonjak menjadi 16.670 orang.
Dampak gempa juga terasa di negara tetangga, Thailand, di mana setidaknya 10 orang dilaporkan tewas akibat keruntuhan gedung. Lebih dari 80 pekerja terjebak di bangunan yang runtuh di Bangkok. Warga Thailand melaporkan pengalaman menegangkan saat gempa terjadi, termasuk terjadinya cahaya misterius dan suara berderit dari bangunan.
Bencana ini mengguncang tidak hanya infrastruktur, tetapi juga psikologi masyarakat. Warga berbondong-bondong menuju tempat aman, menghindari gedung-gedung tinggi yang berpotensi runtuh. Situasi di rumah sakit pun semakin kritis, dengan tenaga medis kewalahan menghadapi jumlah pasien yang terus meningkat.
Peristiwa ini merupakan pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam, dan dunia kini menantikan langkah-langkah konkret dari komunitas internasional untuk membantu Myanmar dan Thailand dalam mengatasi dampak dari bencana yang memilukan ini.